Petualang Unik - Warnanya merah muda, kenyal dan berlendir. Ukurannya cukup menakjubkan, 20 cm panjangnya. Bisa jadi spesies dalam keluarga siput ini termasuk paling jumbo atau raksasa. Bayangkan, kalau kamu sedang menelusuri hutan lalu hewan berlendir sebesar ini menempel di kaki, leher, atau punggung kamu.


Bisa saja hal itu terjadi bila kamu mengunjungi kawasan Gunung Kaputar, sebelah utara New South Wales, Australia. Siput raksasa dengan nama ilmiah Triboniophorus aff. graeffei ini hanya ada di kawasan gunung terpencil tersebut. Jarang orang bisa menjumpainya. Mereka hanya keluar saat setelah hujan. Walau makanan utamanya tumbuh-tumbuhan, siput raksasa ini juga menyantap serangga kecil dan tak jarang memangsa siput lainnya. Sehingga dijuluki siput kanibal.


Seperti disebutkan di atas, jarang terlihat dengan mata telanjang, kecuali pada waktu-waktu tertentu. Seperti dilaporkan Michael Murphy, penjaga hutan Taman Nasional kepada ABC (Australian Broadcasting Corporation), "Pada suatu pagi yang baik, Anda dapat berjalan-jalan dan melihat ratusan dari mereka, tetapi hanya dalam satu area."


Petualang Unik - Laba Laba tarantula yang terkenal sangat ganas dan mematikan tidak ditakuti bagi anak anak kecil di pedalaman Kamboja Desa Trov Pheang Ctas, bahkan menjadi makanan kegemaran mereka sehari-hari. Dengan tangan tak berpelindung, anak-anak ini menangkap tarantula. Kemudian hewan itu dibersihkan serta dibalur dengan mentega.

"Goreng. Lalu hap! Tarantula masuk ke mulut si anak," tulis situs berita Daily Mail, Rabu, 21 November 2012.


Fotografer Inggris, George Nickles, yang memotret kehidupan di Desa Trov Pheang Ctas, hanya terdiam melihat hal itu. "Mereka begitu santai memburu tarantula, seperti anak-anak Inggris yang tengah memanen stroberi," kata Nickles.

Saya takjub." Tarantula, tikus, kadal, katak, dan kalajengking merupakan menu biasa yang kerap disantap warga Kamboja. Namun tidak ada rekam jejak yang menunjukkan sejak kapan mereka memakan hewan beracun atau berbisa.


"Beberapa mengatakan kebiasaan itu muncul sejak pasukan Khmer Merah berkuasa di Kamboja," kata Nickles. "Banyak warga yang kelaparan, hingga nekat memakan hewan berbahaya."

Tarantula-tarantula itu kemudian dibersihkan lalu digoreng dengan mentega atau minyak. Meski terlihat berbahaya, tapi tarantula itu tidak mematikan. Sengatannya hanya terasa seperti sengatan lebah. Tarantula di Kamboja ini dari jenis tarantula zebra Thailand, atau Haplopelma albostriatum.


Dalam memburu tarantula, anak-anak Kamboja terkadang membekali diri mereka dengan bambu atau cangkul. Dengan alat itu, mereka gali sarang tarantula. Begitu si hewan keluar, hup! Ditangkaplah binatang itu. "Mereka pegang bagian punggung tarantula agar terhindar dari gigitannya,"" kata Nickles.


Petualang Unik - Kalau anjing menggigit manusia itu hal biasa, tetapi kalau manusia yang menggigit anjing apa jadinya? Inilah yang terjadi pada pasangan suami-istri asal Amerika Serikat, Caren dan Laine Henry.

ilustrasi

Demi menyelamatkan sang istri Caren yang digigit anjing jenis Labrador di bagian perut dan paha, Laine Henry nekat menggigit balik anjing tersebut tepat di bagian moncongnya hingga membuat anjing Labrador seberat 12 kg tersebut lari ketakutan.

Mulanya sang suami berusaha membantu istrinya untuk melepaskan gigitan anjing tersebut, namun Laine Henry pun malah terkena gigitan di bagian lengan. Meski mendapat perlawanan dari Caren dan Laine, anjing tersebut sama sekali tidak melepaskan cengkeramannya. “Hingga akhirnya, suami saya menggigit moncong anjing tersebut dan dia pun kabur,” jelas Caren.

Insiden gigitan anjing tersebut terjadi di dekat rumah ayah Laine di Madrid, Lowa, AS. Hingga kini masih belum diketahui kenapa anjing tersebut tiba-tiba menggigit dan tidak diketahui pasti siapa pemilik anjing tersebut.

Sumber

Petualang Unik - Berhemti dari kebiasaan merokok meruapakan hal yang sangat sulit bagi para perokok , seseorang yang sudah terbiasa merokok memang susah melepaskan hal yang satu ini , karena saat sudah terbiasa merokok ketika berhenti pasti ingin mencoba nya sesekali, nah sesekali itu yang menyebabkan kita balik lagi merokok terus menerus.


Di pagi kali ini webunic akan membahas 6 Cara Ampuh Berhenti Dari Kebiasaan Merokok , tapi itu semua juga harus ada niat dari diri Anda sendiri untuk berhenti merokok , langsung aja nih cekidot

1 . Niat Untuk Berhenti Merokok
Kalau tidak ada yang satu ini bawaannya tetap saja pasti sulit mengajak seseorang untuk berhenti merokok , jadi Anda harus mempunyai niat dan tekad yang bulat untuk berhenti merokok.

2. Mengetahui Apa Alasan Anda Bernhenti Merokok
Apabila Anda sudah mempunyai niat dan tekad yang bulat untuk berhenti merokok Anda harus punya alasan yang kuat mengapa Anda berhenti merokok. Apakah itu karena dampaknya yang tidak baik untuk kesehatan , ataupun Anda ingin terlihat muda dan semacamnya , yang terpenting alasan kuat ini yang mendorong tekad dan niat Anda untuk berhenti merokok.

3. Bertahap Dalam Melakukannya
Seseorang yang ingin berhenti merokok itu memang sangat sulit , jadi kita harus coba perangi dan melakukannya secara bertahap ,maksudnya misal kita sehari bisa 2 bungkus, coba hari ini 1 bungkus dan harus bisa, dan terus menerus mengurangi jumlah rokok demi rokok yang Anda hisap , hal ini sangat ampuh untuk berhenti dari kebiasaan merokok.

4. Melakukan Aktivitas Atapun Olahraga
Lakukan lah sebuah aktifitas kegiatan ataupun olahraga sebagai pengganti waktu rokok Anda, karena hal ini akan menyehatkan tubuh dan kebugran Anda. Makin lama terus menerus di lalukan pemikiran ingin merokok akan punah saat kita masih banyak kegiatan.

5. Konsultasi Dokter Ataupun Ahli Terapi
Apabila Anda memang ingi berhenti merokok coba cara ampuh yang satu ini, coba Anda konsultasi ke dokter ataupun ahli terapi. Karena segalah sesuatu sebaiknya di serahkan ke ahlinya , nah pasti dokter pun punya resep ampuh agar Anda berhenti merokok.

6. Coba Dan Coba Terus
Kegagalan dalam mencoba itu sudah biasa , banyakorang yang sudah putus asa dalam mencoba berhenti merokok tetapi hal ini justru akan membuat tekad pemikiran kita untuk mencoba dan mencobanya terus, hal ini sangat ampuh untuk berhenti dari kebiasaan merokok , intinya jangan mudah putus asa dan pantang menyerah.

Petualang Unik - Meski bermanfaat untuk kesehatan, makan tahu dan tempe setiap hari ternyata tidak baik untuk wanita. Demikian disampaikan ahli naturopati dari Australia Janella Purcell.


Menuut Janella seperti dikutip BodyandSoul, Selasa (23/4/2013), agar ovarium wanita sehat secara alami, janganlah makan tahu dan tempe setiap hari.Setiap bulan, ovarium wanita melepaskan telur dari folikel sebagai bagian dari siklus reproduksi. Tapi, bagi kebanyakan wanita prosesnya tak sesuai rencana dan ini bisa memengaruhi tubuh.

Ovulasi pada wanita dipicu oleh keseimbangan hormon tertentu, seperti estrogen dan progestereon. Diet tinggi makanan olahan yang mengandung lemak dan karbohidrat tak meningkatkan kesehatan ovulasi. Begitu pula dengan tahu dan tempe. Kaum wanita sebaiknya tak mengonsumsi tahu dan tempe setiap hari.

Produk kedelai seperti tahu dan susu kedelai merupakan makanan alami yang tinggi kandungan fitoestrogen (senyawa alami dari tanaman yang mampu memengaruhi aktivitas estrogenik tubuh). Hormon ini dianggap mengganggu fungsi normal estrogen. Namun tanaman dengan estrogen itu bisa menjadi makanan sehat jika konsumsinya sedang atau cukup beberapa kali seminggu, tak boleh dimakan setiap hari.

Sama halnya dengan xenooestrogens, hormon yang juga meniru estrogen. Terutama pada xenoestrogens sintetis yang ditemukan di beberapa pembersih berbahan kimia, produk rambut, dan perawatan kulit, pupuk, serta pestisida.


Petualang Unik - Ketika melihat teman atau sahabat tengah dirundung masalah, Anda tentu tak ingin berdiam diri. Tapi hati-hati dengan teman yang mudah galau atau sedikit-sedikit stres, karena menurut sebuah studi kondisi ini dapat menular.


Bahkan peneliti Gerald Haeffel dan Jennifer Hames dari University of Notre Dame, AS mengklaim teman dekat atau sahabat orang yang mudah depresi akan merasakan gejala depresi yang sama dalam kurun waktu enam bulan kemudian.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Psychological Science ini memaparkan yang bersifat 'menular' dari penderita depresi adalah 'cognitive vulnerability' atau 'kerentanan kognitifnya'. 'Kerentanan kognitif' adalah kondisi seseorang yang cenderung merespons masalah secara negatif. Orang yang memiliki tingkat 'kerentanan kognitif' tinggi terbukti lebih rentan terkena depresi.

Tingkat 'kerentanan kognitif' satu orang dengan orang lainnya berbeda-beda. Biasanya gejalanya mulai muncul pada usia remaja awal dan terus berlanjut hingga dewasa. Kendati begitu, Haeffel dan Hames memprediksi ada kemungkinan untuk memodifikasi kecenderungan seseorang untuk mengalami depresi dalam kondisi tertentu.

Haeffel dan Hames menduga jika 'kerentanan kognitif' ini bisa jadi 'menular', terutama ketika lingkungan sosial seseorang tengah berubah-ubah. Keduanya menemukan hipotesis ini setelah mengamati 103 pasang rekan sekamar yang baru saja memulai kehidupan perkuliahan sebagai mahasiswa baru (maba) di sebuah universitas di AS.

Setelah sebulan menjalani kehidupan perkuliahan, setiap partisipan mengerjakan beberapa kuesioner online yang didesain khusus untuk mengukur tingkat 'kerentanan kognitif' dan gejala depresi yang dimilikinya. Aktivitas ini kembali dilakukan partisipan tiga bulan kemudian, begitu pula dengan enam bulan berikutnya. 

Dari situ peneliti menemukan bahwa maba yang secara acak ditempatkan satu kamar dengan partisipan lain yang tingkat 'kerentanan kognitifnya' tinggi lebih mudah tertular gaya kognitif teman sekamarnya. Tak hanya itu, tingkat 'kerentanan kognitifnya' pun berkembang pesat. 

Sebaliknya, maba yang diminta sekamar dengan partisipan lain yang tingkat 'kerentanan kognitifnya' rendah justru mengalami penurunan pada tingkat 'kerentanan kognitif' mereka sendiri. Efek penularan ini terbukti tetap konsisten pada partisipan dan terlihat dari hasil kuesioner partisipan tiga dan enam bulan kemudian.

Bahkan peneliti mencatat perubahan tingkat 'kerentanan kognitif' ini mempengaruhi risiko gejala depresi partisipan di masa depan. Pasalnya, teman sekamar yang menunjukkan peningkatan 'kerentanan kognitif' di tiga bulan pertama berisiko dua kali lebih besar memperlihatkan gejala depresi pada bulan keenam dibandingkan partisipan yang tidak menunjukkan peningkatan.

"Temuan kami mendemonstrasikan bahwa 'kerentanan kognitif' berpotensi untuk bertambah atau berkurang dari waktu ke waktu, tergantung konteks sosialnya," tandas Haeffel dan Hames seperti dilansir Emaxhealth, Selasa (23/4/2013).

Namun Haeffel dan Hames menduga efek penularan ini dapat dimanfaatkan untuk membantu mengobati gejala depresi yang dialami seseorang.

"Nantinya lingkungan sosial individu bisa jadi bagian dari proses intervensi atau suplemen terhadap intervensi kognitif yang sudah ada, bahkan dijadikan metode intervensi yang berdiri sendiri. Misalnya mengelilingi pasien depresi dengan orang-orang yang memiliki gaya kognitif adaptif agar dapat membantu memfasilitasi perubahan kognitif dalam terapi," pungkas keduanya.